Lamaholot adalah sebuah wilayah provinsialis ke-Lamaholot-an kita, yang melingkupi wilayah dari Au’ Gatang Matang di sekitar perbatasan Sikka-Flotim, Hikong, Boganatar (di Barat) sampai ke Kolana Baranusa, Keroko Pukeng Lepang Batang, yang disebut Tana Muna Seli (di Timur).
Menutur-ceritakan Budaya Lamaholot, sangatlah sulit karena di beberapa etnik ke-lamaholot-an keaslian/orisilnalitas budaya sebagaimana yang kita harapkan sudah buram dan kusam. Boleh kita katakan bahwa pengaruh memburamnya orisinalitas Budaya Lamaholot adalah dosa kita semua. Pengaruh globalisasi telah menghanyutkan kita dalam arusnya. Tidak pernah terlintas niat untuk mempertahankan budaya yang sungguh asali sebagai sebuah asset yang patut dijaga kemurniannya.
Konon kemampuan bercerita/berhikayat dalam versi koda kenalan/koda klaken (bahasa adat Lamaholot) menjadi kemampuan orang tertentu yang diyakini memiliki talenta khusus. Bahwa orang bertalenta khusus itu mendapat semacam karunia melalui “menuno buno” (kejatuhan bintang penerang budi), bahkan konon didampingi “sili gokok” (= siri gokok = burung ilussif sebagai pendamping yang membisikkan bahasa tutur).
TEROPONG
Dalam kesempatan ini kita coba mengenang momentum sederhana penuh pesona ala Adonara, yakni seremoni “ore” (ore ana’ = seremoni pemberian nama marga/nama kampung kepada si bayi). Bayi yang belum memahami apa-apa, yang belum mampu mengasup makanan sebagaimana orang dewasa (karena bayi baru mampu mengasup asi), diberi mkan untuk dipernamakan. Si bayi disajikan makanan berupa nasi putih dan daging ayam yang direbus dengan air santan tak seberapa kental. Moment ini dianggap sebagai acara makan bersama antara bayi dengan leluhur moyang yang bakal disandang namanya.
Ketika si bayi disuguhkan (dengan cara mendekatkan ke mulut bayi) oleh kakeknya,
1. Kepala ayam, disertai amanat, “kotem de ta’a ma’ang ibe’ mur’eng” (jadilah anak yang tegar dan keras kepala dalam menegakkan/membela kebenaran).
2. Dada ayam yang empuk lezat, disertai amanat, “obakem de peweka’ ma’ang peteng penuket melan senaren – mete peheng bloyeng beleokeng” (buka dan lapangkan dadamu untuk selalu mengusut dan mnyelesaikan setiap persoalan dengan penuh kebajikan).
3. Hati dan jantung ayam disertai pendarasan amanat, “puhom wuakem ma’an liwu melan senaren, keru baki, keloh’ong kelephong” (semoga hati nuranimu menghimpun kebenaran, kelemahlembutan, dan yang lurus mulia).
4. Kaki dan sayap ayam disertai pengucapan amanat, “leim de beretep ma’ang lei’ raring, limam de berea ma’ang nuda kelekat” (hendaknya ringan langkahmu menapak tugas perutusan, dan gesitlah tanganmu menyokong dan membantu sesama).
Terlepas dari menarik tidaknya momentum ini, kita wajib menghormatinya sebagai moment penanaman kesejatian citra seorang manusia Lamaholot. Pembekalan ini justru dimulai ketika seorang anak lamaholot masih bayi, masih polos dan murni, dengan harapan: semua amanat luhur sebagai kesejatian manusia Lamaholot menyusup masuk dan mengalir bersama darah dan aneka nutrisi dalam urat nadi manusia Lamaholot.
KHARISMA LAMAHOLOT
Berbicara tentang Budaya Lamaholot, berarti juga meyebutkan nama-nama besar sebagai leluhur pengasal. Beberapa nama yang boleh disebutkan di sini, yakni:
Kopong Gula Wuring & Wae Besi Ema
Pato Golo Arakian & Watowele Oa Dona (Apautan)
Lian Urat & Teniba Duli
Masang Wahan & Peni Masan Dai
Laga Doni & Nini Sarikolong
Kelake Adopehang & Kewae Sodeboleng
dan lain-lain ( di Lembata/Lomblen dan Alor-Baranusa)
Dari nama-nama inilah kepada warga Lamaholot diturunkan aneka kharisma, yang pada dasarnya sama dalam peran, tetapi berbeda penamaannya pada setia etnik provinsilis.
Pembagian kharisma lamaholot tidak berpatok pada norma tertentu, tetapi lebih bersifat aklamasi sesuai peran hirarkis manusia lamaholot. Kharisma ini disebut “kemuha” / “ike’ kewa’at”, yakni :
1. Asa Lewo Mehene,
kharisma memimpin kampung, menjadi kepala kampung yang berwawasan luas dan berkebijaksanaan.
2. Asa Reket Leu,
kharisma menempa, mempersiapkan, dan memantrai berbagai ragam persenjataan perang (doeloe). Sekarang dapat diartikan memiliki persenjataan akal untuk menyiasati sekian ragam kebijakan pemerintah, aturan, dan berbagai program.
3. Asa Kenew’ang,
kemampuan melipatgandakan, terutama di bidang ekonomi (petani = ola ehing kebang peno mele rere, peternak = pa’o pasing raang kubu ba’at senudi peno)
4. Asa Kdang Kenere,
kemampuan spesifik untuk menjadi penghubung bumi=tanaekan dengan langit=lerawulan.
5. Asa Laba Beahe,
kemampun membangun peri-tobeng leke-pasang.
6. Asa Molang Daeng Puli Toben,
kemampuan menyembuhkan penyakit.
7. Asa Lelu Burang,
(ata mukin mua wadan) sebagai pemegang molot beraha atau molot beleg’ang yang berperan sebagai juru damai.
SELAYANG PANDANG LAMAHOLOT
Setiap kebudayaan menunjukkan bagaimana masyarakatnya mengungkapkan relasi dan be-religare dengan Sang Wujud Tertinggi, dengan sesama dalam rumpun budaya tersebut, dan dengan alam ciptaan sebagai lingkungan hidup -tempat beradaptasi. Semuanya diungkapkan dengan bahasa tutur, dengan sikap dan perilaku, dengan tata karma, dengan tata kerja, dan tata kehidupan masyarakat itu sendiri.
Leluhur Lamaholot sungguh prcaya akan wujud tertinggi, yang disebut Lerawulan Tanaekan. Hingga kini keyakinan religious hakiki (iman kosmis) masih kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat Lamaholot. Dalam refleksi iman kosmis Lerawulan Tanaekan menampil-tunjukkan “kebapak-ibuan ilahi”, kepada seluruh alam ciptaan, semua manusia, dan makluk hidup lainnya.
Lerawulan Tanaekan adalah maha tinggi melampaui segala-galanya.
Maka jadilah dia, AMA RATU RERAWULAN / AMA DEWA RERAWULAN.
Tuhan adalah juga Tuhan yang dekat, yang merangkul kita dengan erat dalam dekapan-Nya. Maka jadilah dia EMA NINI TANAEKAN / INA GUNA TANAEKAN.
Alapet Rerawulan Tanaekan (Tuhan) pemilik langit dan bumi
Na’ bo bele na’ bo belolo maha besar dan maha tinggi
Na’ tobo doan teti kelen tukan bertahta nun jauh di langit
Na’ pae natan tepi tanaekan menetap di atas muka bumi
bisa naen golek kowa kelen kuasa-Nya mengitari langit
kewasa naen gawak tanaekan karisma-Nya melingkari bumi
tite atadik’en kita manusia
tekaro worake tenure mehin makan minum dari kelimpahan-Nya
Lerawulan Tanaekan menunjukkan kebapak-ibuan, penuh pengayoman dan belas kasih bagi kita manusia. Kebapak-ibuan Lerawulan Tanaekan menunjukkan kebesaran dan kelapangan kasih sayang, keluasan kesabaran, kesetiaan purna dalam menghimpun dan menganugerahkan kelimpahan.
Persekutuan Lewotana Lamaholot menghendaki agar kita mau berusaha menyelami peran kaka-bapa ama-nene / ina-ama koka-moyang / ina-ama koda kewokot, serta berbagai bentuk persekutuan antara “mereka” dengan kita yang masih hidup di bumi Lamaholot yang mereka wariskan. Kita perlu menyelami peran dan fungsi tempat-tempat yng diakui sebagai tempat bersemayamnya kaka-bapa ama-nene, seperti: koke bale/korke, nuba nara, oring bele, lango belen, dll.
Unsur-unsur konstitusi lewotana perlu kita hayati dengan berusaha menanamkan rasa hormat terhadap peran: Koten, Kelen, Hurit, Maran / Kot’en, Kor’on’ Ik’un, Ew’an dalam fungsinya sebagai dewan lewotana, selain peran taran nekin – taran wanan. Berbagai bentuk keterhimpunan hikun teti wanan lali, lein lau weran rae, uake tukan wai matan (dalam keutuhan suku pito-wungu lema) adalah keterhimpunan yang memperteguh persekutuan lewotana dengan warganya.
Ada beragam aturan adat tidak tertulis yang dijunjung tinggi, dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab yang disebut hayu-baya/bela-baja.
Hayu-baya/bela baja disepakati dalam keimanan akan lewotana, Lerawulan, Tanaekan, yang dimaklumatkan kepada seluruh warga, disaksikan oleh alam semesta, ile woka – tahik wai. Persekutuan lewotana senantiasa memperhatikan kesejahteraan keluarga, suku, warga lewotana yang dituangkan melalui gemohing.
SIAPAKAH ORANG LAMAHOLOT
Lamaholot mengandung arti, komunitas yang mampu begerak cepat dan gesit, lincah, mulus, dan mudah menyesuaikan diri secara luwes dan dinamis. Atadik’en yang menghuni belahan bumi Lamaholot adalah orang-orang yang sungguh-sungguh orang, orang baik, orang benar, dan berbudi.
Arti yang dapat kita rangkum dalam istilah ATADIK’EN LAMAHOLOT adalah:
· Komunitas manusia yang terdiri dari orang-orang yang sungguh baik, benar, berbudi luhur, berakhlak mulia.
· Komunitas manusia yang luwes/supel bergaul, mudah menyesuaikan diri, bersifat dinamis sehigga mudah diterima di lingkungan mana saja dia bekerja, mengabdi, dan berbakti.
Lamaholot adalah etnik kepulauan yng berbhinneka dalam dialek, suku marga, dan adat istiadat. Dalam kebhinnekaan itu Atadik’en Lamaholot bersendi pada koda:
Pe koda doan usu asa
buta mete walan mara
tana tawan ekan gere
Pada zaman dahulu kala,
di saat lumpur dan tanah bencah mengering
di saat itulah bumi dan segala isinya tercipta
Atau dalam saduran yang lebih bebas: Sejak awal mula yang ada hanyalah sabda, yang menjadi asal-usul segala sesuatu yang berwujud, di saat lumpur dan tanah bencah mongering, terciptalah bumi alam raya serta segenap isinya.
Dari penggalan terjemahan seperti di atas (konteks pen-sabda-an), Lamaholot tercipta seiring kisah Nabi Nuh. Berarti Lamaholot bersendi, berakar dan berdasarkan pada keluhuran koda.
Dengan uraian sangat terbatas terhadap “ pe koda doan usu asa, buta mete walan mara, tana tawan ekan gere”, maka Atadik’en Lamaholot lahir, hidup, dan mati menganut filosofi sebagai berikut:
Koda pulo lodo tuena’
na’an ana atadik’en
kirin lema gere balika
na’an bai uhune tukan
ke mian koda pulo lodo tudaka
kirin lema gere hangaka
Na’ nai gang ana atadik’en to’u
yang dalam keterkaitan konteks diterjemahkan:
sabda menjelma menjadi manusia
firman berinkarnasi menjadi si buah hati
maka ketika bibir terlanjur bicara
dan lidah membalik ujaran
seorang anak manusia akan terenggut nyawanya
Menjalani kehidupan ber-lamaholot, berarti menjalankan firman dan mematuhi sabda: Tekan mete hukut koda pulo, tenu mete heket kirin lema.
Koda de pue’ untuk menguatkan hati (ta’an heke’ onet), kiri berek’an untuk menyemangati sanubari ( ta’an egek puhoket).
Dalam hidup ber-lamaholot ada sumber yang menjadi sendi hidup, yakni: KODA PULO KIRIN LEMA (sabda=firman) Sumber inilah yang menjadi asal mula segala sesuatu. Koda Pulo Kirin Lema adalah cinta itu sendiri (beri-memberi, tulung gelekat, budi pekerti luhur, keramahtamahan, kelemahlembutan), yang diungkapkan dalam tatanan kalimat santun dan maknawi (koda kirin, nuang nuru maring noning), sert diwujudkan dalam berbagai perbuatan cinta kasih (perkawinan, pereket kopong barek), yang direstui oleh pusat segala cinta (bereka koda puken, bereka lerawulan tanaekan), maka lahirlah seorang anak atadik’en di muka bumi Lamaholot.
Setiap lewo mempunyai struktur sosial budaya yang saling berbeda, tetapi nilai filsafi yang terkandung di dalamnya sama adanya. Lewotana adalah sebuah budaya persekutuan. Lewo yang satu dengan lewo lainnya saling menghargai.
Jadi budaya local Lamaholot merupakan “roh persekutuan”. Roh persekutuan itulah yang menjiwai atadik’en Lamaholot dalam perjumpaannya dengan masyarakat global.
KEBAPAK-IBUAN LERAWULAN TANA EKAN
Kebapak-ibuan yang mampu menyelami setiap problema:
Ema pe’en molan sina ibu adalah dukun yang arif
bapa pe’en ben jawa ayah adalah tabib sejati
ema pe’en tama tahik yang menyelami dalamnya lautan
bapa pe’en gere kelen yang menjangkau tingginya langit
ema sin tobi lolon ibu setia merawat tanaman
tobi lolon pito getan menggenapi aneka tumbuhan
bapa dadi manuk ina ayah memelihara ternak
manuk ina lema ga’it meggenapi berbagai satwa
Kebapak-ibuan yang mememgang segenap kearifan dan kebijaksanaan:
Ema pe’en teniban sina ibu penimbang bijak bestari
Bapa pe’en beuji jawa ayahlah penilai arif nan adil
Tiban pulo dike-dike dengan pertimbangan maha bijak
Uji lema sare-sare dan menelaah sepenuh kearifan
Kebapak-ibuan yang tegas dalam prinsip – bijaksana dalam cara:
Ema pe’en sao wato ibulah sauh batu
Sao wato mu-mu jangkar batu sesungguhnya
Bapa pe’en niwan olak ayahlah jangkar besi
Niwan olak bene-bene jangkar besi nan sejati
Kebapak-ibuan yang memberi kesejukan, kebeningan, dan kedamaian:
Ema pe’en ulun wai ibu laksana beningnya air
Ulun wai makok tukan yang padan membias dari mangkuk
Bapa pe’en naran selan ayah laksana kilau minyak
Naran selan buli yonen yang laras memantul dari botol
Ema pe’en wai banu ibu adalah sumber air
Wai banu begula hering yang selaras dalam tampungan
Bapa pe’en selan tapo ayah ibarat minyak kelapa
Selan tapo ketawo liwo yang serasi dalam bejana
Kebapak-ibuan yang memberikan tumpuan dan naungan:
Ema pe’en madun tobi ibulah sandaran sekokoh asam
Bapa pe’en moren bao ayahlah naungan serindang beringin
Ema wato lolon mera ibulah batu tumpuan nan datar
Bapa bao puken gowe ayahlah penaung yang menyegarkan
ORANG LAMAHOLOT “BERBUDAYA”
Seyogyanya Atadik’en Lamaholot tegas dalam tindakan, berani berbuat berani bertanggungjawab. Betindak sesuai apa yang dikatakan. Memberi perintah dengan menunjukkan keteladanan kerja.
Atadik’en Lamaholot adalah orang-orang mampu. Kemampuan tersebut diperoleh sebagai upah (be’era’) karena sungguh memahami peran yang harus dilakoni, serta menjunjung tinggi peran dewan lewotana, seperti:
KOTEN KOT’EN HIKUN TETI WANAN LALI
KELEN KOR’ON LEIN LAU WERAN RAE
HURIT IK’UN DUA POLA MEKO MIREK
MARAN EW’AN UAKEN TUKAN WAI MATAN
Dengan rincian peran, sebgai berikut:
1. Koten, didaulat sebagai tuan tanah dan pemegang kekuasaan lewotana, sekaligus sebagai pemimpin panitia empat.
2. Kelen, dinobatkan sebagai pengatur hubungan kerja sama dengan lewo-lewo lainnya, dan bertnggung jawab atas masalah perang dan damai.
3. Hurit, diberikan tugas untuk meramalkan sesuatu peristiwa, penjamin kemajuan ekonomi, dan sebagai penasihat jika ada perbedaan pendapat antara Koten dan Kelen.
4. Maran, sebagai pembaca mantra pada setiap seremoni, untuk meminta restu dan pengayoman lewotana, juga sebagai penasihat Koten dan Kelen.
Selain pilar empat yang membentuk Dewan Laewotana, masih ada peran lainnya yang tidak kalah penting, yakni BEL’ENG LEWO MEHENE SUKU.
Kekuatan “bel’eng lewo - mehene suku” sungguh diakui dan disegani. Lembaga ini memiliki otoritas yang syah dalam memutuskan perkara menurut hukum adat = hayu baya = bela baja, yang diwariskan kaka bapa - ama nene. Mereka dilantik secara resmi (walaupun kadangkala terkesan aklamatif dan bersifat turun temurun) melalui upacara “hudu’ bakat – pet peri” (pemandatan kuasa dan wewenang) atau acara “gobo’ pet” (pengenaan daster/pemakaian tanda kehormatan).
Bel’eng lewo mehene suku berwewenang untuk melaksanakan acara “guang gahin” kepemerintahan lewotana, menetapkan hayu baya/bela baja, menetapkan keputusan hukum adat lainnya. Dan apabila ada hal-hal yang mengganggu keserasian relasi sosial maka bel’eng lewo – mehene suku menjalankan sebuah ritus adat yang disebut “hamung gi’it = hua pepa’ = penjernihan’.
Dalam relasi sosial budaya Lamaholot atadik’en lamaholot yang berbudaya mau tidak mau memberikan dharma bakti tanpa pamrih.
· Hego leika – gikat limaka,
dalam arti mereka sungguh bertanggungjawab dalam melaksanakan sesuatu pekerjaan hingga tuntas, dan mendatangkan hasil yang memuaskan semua orang.
· Urang gwurut rera patok ra peroing penudang hala:
atadik’en lamaholot tidak mengeluh apabila dihadang oleh tantangan dan hambatan, sekalipun tantangan dan hambatan itu terkesan berat.
· Tunu limaka bena’ aeka ra’an lagang gole’
mete hukut heket ribhun rathun.
Dalam membangun komunitas kelamaholotan atadik’en lamaholot itu sendiri berkewajiban mendahulukan terwujudnya kesejahteraan orang banyak, dan menomorduakan kepentingan pribadi dan keluarga. Asal orang lain bahagia, ia ikut senang.
· Tonga aeng gere, mete lugu parep.
Mereka berani bertanggung jawab kepada dewan lewotana atas sesuatu persoalan, dengan tetap mengutamakan kepentingan, kenyamanan, dan ketentraman orang banyak yang diayominya.
· Tange to’u no’on na’en to’u
Tah’ang wahan kae titen.
Mereka senantiasa mengutamakan nilai kebersamaan hidup dalam lingkup suasana kekeluargaan penuh persaudaraan
BELET’UNG
Manusia Lamaholot adalah penganut azas gelekat gewayang tanpa pamrih. Semangat gotong royong telah menempa mereka menjadi warga gemohing yang mempunyai rasa malu jika alpa dalam berdharmabakti. Atadik’en yang merasa sangat berdosa apabila menyalahgunakan keutuhan gemohing demi kepentingan diri sendiri.
Karena pada dasarnya, atadik’en lamaholot yang sejati wajib:
PETENG PENUKET NOIRO,
UKU LOYAK GAHING GASA NOIRO,
HUPENG NA’AN NEWARO,
MARING LIKO NA’AN NOIRO,
Kebanyakan isi wacana ini dipungut dan diramu dari ceceran catatan lepas yang kesinambungannya tidak/kurang korelatif oleh Bapak David Sili dan di terbitkan oleh FKPPM-BTT.
Mohon maaf jika ada kekurangannya….