Minggu, 13 November 2011

SENI BERBUDAYA-BUDAYA BERSENI


DIALOG BUDAYA SLTP SE ADONARA BAGIAN TIMUR
FORUM KOMUNIKASI PEMUDA PELAJAR MAHASISWA BOLENG TIKA TIMU

SENI BERBUDAYA -BUDAYA BERSENI
Adonara, “The Murdered Island” Yang digelarkan Ernst Vatter (Ata Kiwan) kepada Adonara (1938),  ada benarnya, karena ketika itu  tiada hari tanpa perang, tiada hari tanpa pembunuhan. Tetapi kenyataan Adonara Baru menurut  Ein Christie dan Pennelope Graham (1992): “The Artistic Island of Adonara”
Ø  ANEKA TARIAN
Hedung sili tubu ua sole, oha, dolo seleng, liang, namang nige, gawe au’tena rere beku dll (Ragam tari sebagaimana di atas tidak terlepas dari seni suara, karena dalam membawakannya dibutuhkan pendarasan syair-syair).
Ø  LAMAHOLOT
Dalam wilayah ulayat yang meliputi Au Gatan Matan di Hikong - Boganatar sampai ke Kolana – Baranusa (Tanah Muna Seli)- Kroko Puken Lepan Batang sesungguhnya kaya dalam seni budaya
Ø  RELIGIOSITAS SENI BUDAYA
Tari-tarian lokal kita adalah cetusan rasa yang bersumber dari analisa rohani yang mendalam, yang menggambarkan rasa duka, gembira, atau penghormatan. Tari-tarian lokal kita sudah jauh dari orisinalitas sebagaimana basis pencetusannya – sudah banyak polesan yang sebenarnya kurang perlu Taria-tarian kita sifatnya statis dan monoton. Syair-syair yang melatari tari-tarian adalah juga sebagai ungkapan religiositas yang terlahir spontan yang menggambarkan ungkapan hati/kerohanian penarinya
Ø  QUO VADIS ASET SENI BUDAYA LAMAHOLOT KE DEPAN?
·         Perlu pengembangan
·         Melalui modifiksi
·         Bentuk sanggar
·         Ciptakan fragmen tari
 Modal: Aneka cerita tendensif lokal yang ada, untuk menuju kepada pencapaian kearifan lokal. Menata wiraga,wirama,dan wirasa dalam satu keutuhan paket.
Ø  BEBERAPA KESAN PENTAS
      Penari memakai sepatu/sendal
      Pemahaman penggunaan properti tari  (knube/blida, gala, dopi,sele, nowing, rongot, lado,dll)
      Keterkaitan wirama, wiraga, dan wirasa
      Modifikasi busana jangan terlalu drastis
      Keaslian gerak semakin jauh dari orisinalitas
      Antara ragam gerak masih ada jeda tetabuhan
      Keterimbangan antara penari dengan penabuh.
Ø  BERAGAM ALAT MUSIK
o   Gong
o   Bawa
o   Leto/beletok
o   Nureng/sasong
o   Kobuloning,
o   Reba, gambus
o   Belepa, dll
Ø  Aneka permainan
·         Sili
·         Mesa
·         Bereting/tenobang
·         Nura (perang-perangan)
·         Sagat manuk/gadak manuk
·         Nadi/temada
·         Kote
·         Le’ong keso,dll
Ø  FLASH BACK
Segala sesuatu, baik seni tari, seni suara, alat musik, dan permainan rakyat, semuanya lahir dari spontanitas generasi pendahulu, berdasarkan keadaan waktu itu, serta keterbatasan sarana pendukung masa itu. Luar biasa. Sebuah pertanyaan retorik, ketika pernak-pernik budaya ini semakin kabur dan suram, kita yang hidup di zaman ini “sudah melakukan apa?”
Ø  NILAI JUAL RENDAH
·         Umumnya tari-tarian lokal kita terkesan monoton, kalah dalam tata wirama, penerapan wiraga, dan ekspresi wirasa.
·         Nilai estetikanya rendah, sehingga kalah dalam iven lomba atau festival bai di tingkat provinsi maupun nasional.
·         Koreografi asali dan aslinya tidak tertata baik, hanya mengandalkan gerak monoton dan apa adanya.
·         Pola tarian lebih pada tarian massal dalam setting setengah lingkaran dan berjajar.
·         Kita kurang menerima input pengembangan dan perbaikan, karena menganggap yang ada sudah sangat bagus.
Ø  UPAYA MEMBERI NILAI
·         Sudah saatnya serbaneka tarian kita dipoles untuk dapat menampilkan bentuk tarian baru yang lebih bernilai dan layak jual.
·         Kita membutuhkan seorang keoreografer yang mampu menata koreografi baru dengan meramu serbaragam gerak tari-tarian yang sudah ada dengan tetap menjaga keaslian gerak.
·         Koreografi dimaksud adalah untuk membuat pola tari yang lebih variatif dan tidak monoton, tetapi juga perlu memberikan tema tarian yang kuat.
·         Tata wiraga, wirama, dan wirasa tetap berada pada basis gerak kita yang kasar, jangan meniru gemulainya orang Jawa atau Bali.
·         Tata busana sebagai tuntutan panggung supaya dimodifikasi dari tatanan dasar yang ada dengan sedikit pembaruan, tidak perlu balero ala Jawa atau Bali.
Ø  INI JUGA PENTING
·         Dalam durasi pentas 5 – 10 menit, minimal ada tiga ragam gerak dalam tari tersebut, tidak terhitung gerak in-setting dan out-setting.
·         Dari ragam-ragam gerak yang ada, seyogyanya dapat memberikan bagi audience/penonton nilai estetika, nilai pedagogik, dan nilai emosi. Di mana tarian tersebut menampilkan klimaks tari dan anti-klimaks tari terlebih menjelang akhir tari.
·         Penari memanfaatkan dengan baik serba properti tari, atau menampilkan gerak untuk mewakili properti yang digunakan.
 Mohon maaf jik kata yang salah dalam penulis artikel Budaya Lamaholot ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar